My images may not be reproduced in any form without my written permission.

.All rights reserved.

Kamis, 30 September 2010

...Rumah Kenangan...

Disini.. Kami dilahirkan
disini.. kami dibesarkan
disini.. kami diayun dibuai
dinina bobokkan dalam dekapan kasih sayang
disini..kami merenda mimpi,mengangan masa depan..

Disini.. kami gadis (putra putri) desa mengasah langkah
menatap dunia penuh pesona
dunia penuh ranjau kehidupan, kamikan jinakan dengan
mantra leluhur kami.

Setelah kami dewasa, segenap daya upaya
dengan derap langkah penuh percaya diri
kami merantau kenegeri seberang
bahu membahu diperantauan
kami menyatukan tekad".
"....Kami harus jadi Orang...."

Apapun, dengan segala kerendahan hati, kami jalani..
demi mewujudkan cita-cita leluhur kami agar kami menjadi
".....anak yang berguna....''
 
Kini kami datang wahai Handai-tolan
kini kami pulang wahai arwah
berkat doa' nenek moyang kami
kini kami ada disini..

Dengan segala kemurahan dan berkah dari Allah Yang Maha kuasa 
kami dapat berkumpul bersama sanak keluarga
setelah mengalami cobaan yang berat
digoyang gempa yang dahsyat...

"...Terima kasih Ya Allah..."

Engkau telah menyelamatkan keluarga kami,
serta warisan leluhur kami...

PadaMu Ya Allah sujud syukur kami persembahkan
PadaMu Ya Allah sabda Mu kami tunaikan..
Pada Mu Ya Allah ampunan MU kami dambakan..

Atas nama keluarga besar ma' Sarinat dan Siti Rawi,
mohon Ya Allah peluklah kami dalam kasih Mu....


"Subhanallah"
Setangkai bunga perhatian dari kami  

Padang, 18 Februari 2010


" Nurti Nurdi Arif " 


Sabtu, 25 September 2010

...Untuk Penantian...

Jingga
ketika matahari akan memberi kesempatan pada bulan untuk bersinar...

Gelap ditemani rembulan
Derap langkah tertidur lelap
Tapi hati akan terus berharap...

Kasih kan selalu ku dekap
Walau bintang tak begitu gemerlap
Tapi cinta kan selalu ku peluk erat...

Untukmu yg terkasih
Maafkan aku yg tak bisa sempurna
Denganmu selalu bahagiaku
Semoga bisa hidup bersama...

Cinta telah menikamku tuk setia
Karna kamu adalah warna hidupku
Semoga kamu bertahan dengan apa adanya aku
Rindu menghantamkan aku tuk selalu mengingatmu...

Untukmu segala rasa atas begitu cintanya aku padamu...

I love u

-ivanferdian- 

Rabu, 22 September 2010

Bumi Minang

Kapalo Koto, Pariaman


RailRoad Silaiang
Kapalo Koto, Pariaman
Kapalo Koto, Pariaman
Kapalo Koto, Pariaman
Singkarak Lake, Solok
Singgalang Mount, view from Kapalo Koto, Pariaman
Singgalang Mount, view from Kapalo Koto, Pariaman
Singgalang Mount, view from Kapalo Koto, Pariaman
Singgalang Mount, view from Kapalo Koto, Pariaman
Maninjau Lake, Kabupaten Agam, Bukit Tinggi
Sunset at Ulakan Beach, Pariaman
Railroad Lembah Anai
Water fall Lembah Anai
Singkarak Lake, Solok
Singkarak Lake, Solok
Singkarak Lake, view from Gunung Rajo, Tanah Datar

Gunung Rajo - Tanah Datar

Gunung Rajo - Tanah Datar

Selasa, 07 September 2010

...Mari saling berbagi...

Mendung masih menggelayut tak bosan
Bumi pertiwi terus saja dirundung masalah
Sebentar lagi hujan turun
Derai air mata bahkan juga darah,mungkin..

Jeritan rakyat tak lagi terperhatikan
Entah siapa yang benar entah siapa yang salah
Rakyat hanya pasrah..

Indonesiaku tak pernah bosan
Selalu ditemani intrik kepentingan..

Hajar sana sini itu sudah biasa ditanah ini
Tangisan ibu pertiwi tak dihiraukan lagi
Rakyat makin terjepit
Sendal jepit pun tak lagi sanggup terbeli
Apalagi sesuap nasi..

Nurani terkesampingkan
Budi pekerti tak bernyawa lagi
Tolong menolong saling memberi pun tak berwujud lagi
Dihantam gelombang keserakahan..

Nyanyian suka cita telah lama mati
Dendang luka makin menggila
Ibu Pertiwi menangis..

Buka mata
Buka hati
Rakyat kecil berkeliaran dijalanan
Yang merasa kaya seliweran naik mercy
Kemana lagi harus mencari keadilan di negeri ini..??

..IF.. 


Minggu, 05 September 2010

..Wahai nurani dimana kau kini..

Bercucuran darah ketika mempertahankan negeri iniBermandikan air mata ketika melepas sang pahlawan pergi
Seakan-akan kini tak berarti lagi
Karna pemimpin negeri ini sudah tak ada nyali...

Jiwa nasionalis seperti Bung Karno
Jiwa kesederhanaan seperti Bung Hatta
Jiwa diplomasi seperti Bung Sjahril
Jiwa pengasuh seperti Buya Hamka
Jiwa pahlawan seperti Jenderal Soedirman
Hilang ditelan keangkuhan jabatan...

Negeri ini sudah seperti tak punya taring lagi
Sejarah tak lagi dihiraukan
Yang ada sekarang hanya demi bagaimana memperkaya diri sendiri
Tanpa memikirkan harga diri bangsa yang besar ini....

Ibu pertiwi ku kini kusut
Negeriku kini lusuh acak kadut
Negaraku jadi penakut
Bangsaku diisi para badut
Yang hanya mikirin isi perut...

Woi...angku-angku yang merasa wakil rakyat
Kemaren minta duit aspirasi 5 milyar
Kini minta dibikinkan gedung 1 triliun
Berbagai cara angku-angku lakukan untuk manandehan uang rakyat...

Senayan tak lagi menjadi rumah rakyat
Senayan kini jadi sarang tukang panandehan...

Nurani tak ada lagi
Rakyat kecil semakin teriris-iris
Negeri ini ditelanjangi keong-keong berdasi...

Maaf untukmu ibu pertiwi
Maaf untukmu negeri
Nurani seperti hilang ditelan bumi...


..IF..